SEMUA TENTANG KISAH...

Para Pembaca yang tercinta.... dan mencintai bacaan saya.... Selamat berjumpa dengan saya, yang mencoba mengisi blog sunyi dan penuh coretan bimbang ini... Pada kesempatan ini, untuk kesekian kalinya saya coba menampilkan sebuah tulisan, yang kali ini merupakan penggalan kisah yang saya ambil dari buku (dari judul kisah yang sama)

CINTA ADALAH KESUNYIAN

Sebuah cerpen karya Gabriel Garcia Marquez, (peraih hadiah nobel sastra 1982) seorang penulis dari Aracataka, Kolombia yang merupakan kumpulan cerpen yang di terjemahkan oleh Anton Kurnia seorang cerpenis sekaligus penterjemah cerpen-cerpen karya sastra dari segala penjuru dunia.

cerpen Gabriel Garcia Marquez

Dan mohon disadari… Bahwa kisah yang saya ambil ini tidak utuh… Hanya merupakan penggalan dari cerpen dari salah satu bagian yang cukup menarik bagi saya… (sekali lagi…).. cukup menarik bagi saya… ... ====>>> JADI JANGAN DITANYAKAN BAGAIMANA KISAH SEBELUMNYA….
Semoga tulisan ini bisa menghibur pembaca sekalian…..
SELAMAT MENIKMATI

CINTA ADALAH KESUNYIAN
…………………
Florentino Ariza mencoba bertahan dalam perjalanan yang begitu berat dengan kesabaran yang membawa kesedihan pada ibunya dan kegusaran pada teman-temannya. Ia tak berbicara pada seorangpun. Hari-hari begitu tenang baginya, saat ia duduk di dekat tangga, menatap buaya-buaya yang diam menjemur diri di tepi sungai berlumpur, mulut mereka terbuka untuk menangkap kupu-kupu. Ia memperhatikan sekawanan bangau yang muncul tanpa aba-aba di rawa-rawa, dan beruk yang menyusui anaknya dan mengejutkan para penumpang dengan lengking jeritannya yang mirip suara tangisan perempuan. Suatu hari ia melihat tiga sosok mayat manusia berwarna kehijauan terapung di permukaan sungai, burung-burung bangkai bertengger di atasnya. Awalnya dua sosok mayat melintas di atas kapal, salah satunya tanpa kepala. Kemudian, mayat sosok perempuan muda mengapung, rambutnya yang panjang dan ikal terpilin pada baling-baling kapal. Ia tak tahu, karena tak seorangpun pernah tahu, apakah mereka korban wabah kolera atau korban perang. Namun bau busuk yang memuakkan mengotori kenangannya pada Fermina Daza.
Selalu seperti itu : setiap peristiwa baik atau buruk selalu mengandung keterkaitan dengan perempuan itu. Di malam hari saat kapal membuang sauh dan sebagian besar penumpang berjalan-jalan di geladak dengan putus asa, ia menyimak novel-novel bergambar yang telah ia kenali sepenuh hati di bawah penerangan lampu neon di ruang makan, satu-satunya ruangan yang dibiarkan terang benderang hingga fajar tiba. Kisah yang ia baca seringkali membawa pengaruh magis saat ia mengerti tokoh-tokoh khayalan dengan orang-orang yang ia kenal dalam kehidupan nyata, membuat dirinya dan Fermina Daza memainkan peranan sepasang kekasih yang berseberangan. Di malam-malam yang lain ia menulis surat-surat penuh kesedihan dan kemudian mencabik-cabiknya lalu membuangnya kedalam arus sungai yang terus mengalir kearah perempuan itu tanpa pernah berhenti saat paling sulit. Baginya terkadang muncul dalam sosok seorang pangeran pemalu atau seorang kekasih gelap yang coba dilupakan hingga akhirnya hembusan angin mulai bertiup sepoi-sepoi dan iapun tertidur diatas kursi dekat tangga.
Suatu malam ia selesai membaca lebih awal dari biasanya dan berjalan menuju kamar kecil. Sebuah pintu terbuka saat ia melintasi ruang makan, sesosok tangan mirip cakar seekor elang menyambar lengan bajunya dan menariknya kedalam sebuah kamar. Dalam kegelapan ia bisa melihat sesosok tubuh perempuan telanjang, tubuhnya yang muda berkilat oleh keringat yang panas, napasnya terengah-engah. Perempuan itu mendorongnya terbaring menengadah, membuka ikat pinggangnya, melorotkan celananya, menduduki tubuhnya seolah-olah sedang menunggang kuda, dan merampas keperjakaannya. Mereka berdua terperosok dalam sebuah gairah yang menyakitkan, kedalam sebuah lubang tanpa dasar yang hampa dan beraroma seperti rawa-rawa asin penuh udang. Kemudian perempuan itu terbaring sejenak menindih tubuhnya, terengah-engah, dan memintanya pergi dalam kegelapan.
“Pergilah dan lupakan semua ini, “ ujar perempuan itu. “Semua ini tak pernah terjadi.”
Serangan itu terjadi amat cepat dan begitu mendadak sehingga hanya bisa dipahami sebagai sebuah kegiatan terencana, buah dari sebuah persiapan matang hingga detil paling kecil dan bukan sekedar kegiatan tak sengaja yang disebabkan oleh rasa bosan. Kesadaran akan hal ini menimbulkan kemarahan pada diri Florentino Ariza. Rasa nikmat yang baru saja ia alami menandakan sesuatu yang tak bisa ia percayai, bahkan ia menolak untuk mengakui bahwa khayalan cintanya pada Fermina Daza ternyata bisa digusur oleh secuil nafsu duniawi. Ia penasaran ingin mengetahui siapa sesungguhnya perempuan dengan naluri seekor macan kumbang yang telah membawanya pada nasib buruk itu. Tapi ia tak pernah berhasil. Semakin gigih ia mencari, kian jauh ia dari kebenaran......
.........................................

Itulah sedikit penggalan cerpen Gabriel Garcia Marquez. cerpenis dari Kota Alacataca - Kolombia... Sekali lagi ini hanya sebuah potongan cerpen... Jangan di pikirkan terlalu dalam.. Kasian otak anda.. Ini cukup dinikmati sebagai bacaan saja... Sekian dari saya... Semoga terhibur.... Salam...

Tag : Artikel, Sastra
Back To Top