Puisi Giri Soeprijanto- Hujan di akhir pesta

Puisi ini dimuat di koran Suara Pembaruan edisi Minggu, 10 Januari 2010
klik disini Untuk melihatnya.

Hujan diakhir pesta 
Oleh: Giri Soeprijanto


Dalam diam
Aku melihat mataku seperti hujan
Serupa gumpalan kabut malam
Diantara sorak pesta
Aroma vodka
Dan remasan dada
Saat kau diantara mereka


Nafasku adalah halilintar
Berteriak, diantara pecahan karang dan rongsokan bangkai kapal
Yang mengapung dikedua celah kakiku

Tubuhku yang separuh karang, setengah rongsokan
Tak tau harus mengapung atau berenang

Sedang kau adalah kupu
Kadang hitam
Kadang putih
namun jingga
menari mengikuti gerak angin
lalu singgah ditempat terjauh
dimana dulu kutemukan jasadmu
hanyut dalam sungai malam…

kini, kuharap hujan diakhir sebuah pesta

Bks, Nop’ 09


Tentang mu─
Oleh: Giri Soeprijanto


*/
Aku masih ingat malam itu, ketika kau menggombaliku. saat itu akupun menggombalimu
engkau tertawa saat ku bilang, kau adalah ciuman pertamaku
ketika itu memang kali pertama aku mencicipinya. Tapi kau..
entah keseratus atau empat ratus kalinya

Aku masih ingat malam itu, saat kita bercerita tentang malam
tentang penyihir tua yang tak diterima kubur.
tentang hujan dan pelangi yang diatas kotaku
engkaupun menceritakan semua mimpi egomu
menikahi kematianku
Ahh...  kurasa kau menggombaliku

*/
Dua puluh empat purnama lagi, kau bilang senja berganti fajar
musim kemarau pun menjelma musim panen
diladang depan rumah biru, kita menuai padi menguning
yang kau tanam dua puluh empat purnama yang lalu

sementara anakmu, bermain petak umpet dengan anakku
lalu anak siapa yang duduk disudut pematang itu.?
sedang tetangga kita hanya pohon dan batu..

Bks, Okt ’09

Agar kau ingat senja
Oleh: Giri Soeprijanto


Kutitipkan sajak ini untukmu
ketika bahuku lelah memikul sederetan namamu
dan cekung mataku
tak mampu lagi membaca rentetan abjad
yang kau sembunyikan dibalik saku

kita serupa anak kecil kini
bermain tebak jari
batu, kertas, dan gunting
menghitung kancing baju

peluk...
ini tubuhku
mana usapan lembut tanganmu
kecupan hangat yang kau tawarkan kala senja
sementara aku terhanyut dalam sungai malam

aku masih setia pada kertas
menuliskan sajak, agar kau ingat senja
sedang kini kau berada diantara batu dan gunting
seolah sengaja mengecoh aku

baiklah..
aku turut saja langkahmu
agar kau ingat senja..

bks, Okt' 09
  
Kumpulan puisi lainnya :    





Tag : Sastra
Back To Top