Puisi Giri Soeprijanto-KOMPAS.COM

Puisi ini dimuat di Oase Kompas.com edisi 28 April 2004, silahkan klik disini
JARAK

Diantara bebatuan hitam dipelataran sunyi
Kita mencipta jarak dan sekat
Dari abjad yang terlontar diperbatasan malam
Saat tangis bayi melengking ditelinga kita

Didalam gelas vodka dan asap cerutu
Kucoba mengukir kembali nirwana jingga
Yang dulu pernah kita lukis berdua
Saat dingin malam erat memeluk tubuhku


Tapi wajah itu
Dan juga wajahmu
Adalah sulursulur yang mengikat lenganku
Memasung kedua kakiku
Dan sekat itu
Kian mencipta jarak yang tak terhingga

Bekasi, April 2010

Resah

serupa bayangmu
sosok yang hadir dalam pejamku
ketika hati resah
raga lelah merebah

sedang mataku silau
melihat sebentang purnama ditanganmu
aku larut
kau tak menyambut
aku ragu
kau merayu

aku   -membisu

Bks, April 09

Dalam Pesan singkat

Dalam pesan singkat
kau ukir seuntai kata
syahdu
merdu
membelai langit – malam
 menggelisahkan mimpi lelaki bocah
yang lama tertidur dibalik awan kelam
dibawah kelambu masa lalu
yang mungkin hitam oleh debu

dengan pesan singkat   
diam-diam kau menyusup cepat
seperti pencuri
pada lubang hati lelaki ini
yang lama terkunci
oleh sebongkah gembok kecewa
yang tercipta dari serpihan masa kelam

dalam pesan singkat
kucoba bertanya…
satu tanya yang tak terjawab
 mengapa matahari tak pernah menyaksikan bulan
 mengapa air tak dapat bersatu dengan api

Bekasi, Mei 2009

Cacat yang kau catat

Perlahan
kau mengendap
kedalam hatiku yg berkarat
kemudian merayap
mencari cacat yang hendak kaucatat
bersembunyi dibalik sayap
demi kau puaskan seonggok hasrat

taukah kau….
semua itu sia-sia
karena hati ini terlanjur berkarat
dan cacat yang kau catat
tak kan pernah melebur cinta

Bekasi Mei 2009

Di beranda kota mati

Di beranda kota mati
Kulayangkan anganku pada gerimis dimatamu
Tentang sepasang kemaluan yang mengucap sumpah
Sajaksajak malam diatas ranjang iblis

Saat itu peluhku menjelma nirwana
Ketika kugerayangi tubuhmu dengan janji
Dan ku tikam bibirmu dengan sumpah

Geliat tubuhmu serupa butiran halus sajak
Yang menyumpal setiap peporiku
Dengusan nafasmu bak rentetan mantra sakti
Menenung hatiku untuk menikmati candu
Candu yang kurasakan madu

Diberanda kota mati
Kulihat lagi tubuhmu yang bugil
Untuk kesekian kalinya
Sepasang kemaluan mengucap sumpah
Saat kerinduan melayangkan pesan pada malam
Iblis terbahak lagi...

Bks, 09

Dari lubuk hati yang paling dangkal

Malam ini kau ingatkan aku pada jerit kereta
pada gerbong tua,
palang perlintasan,
relrel mati
serta jalan setapak yang pernah kita lewati
saat langit menitikkan gerimis nelangsa

seperti malam itu
kau tusukkan ujung garpu kedadaku
lalu kau iris kecilkecil,
kau potong bagian kecil itu
menjadi paling kecil bahkan lebih kecil dari semua yang terkecil
sampai tak terlihat merahnya
 -pun oleh kau

sebelum kau temukan jasadku diujung senja
dengan potongan potongan pipih yang menyerupai matamu
aku ingin melihatmu dengan roncean janur dihalaman rumah
diiringi gendhing kebo giro, kijing miring, srimpi dan gambyong
serta gelak tawa yang kian mengendap dalam gelasku
sedang aku tersenyum dibalik meja
menikmati irisanirisan terkecil tubuhku
dan segelas air yang rasanya asin menyerupai air mata

aku ingin mendengar suara kidungmu
tembang macapat asmarandana, dhandhang gula, dan megatruh
sayupsayup tangis bayi saat senja mulai tertidur
dan bunyibunyi aneh
seperti yang kau ceritakan padaku malam itu

Kini aku menjelma pohon cemara di pekarangan rumahmu
kadang menjadi batu tempat kau berjemur saat pagi menjelang
dan burung kutilang yang bernyanyi saat senja tiba

 ”Sayang... sajak ini lahir dari lubuk hatiku yang terdangkal. ”

Bekasi, 2010

Malamku

malamku hanyalah sebuah nisan
tanpa nama, tanpa seroja
kian terasing diantara gugusan cemara
menganga penuh luka
menggeliat bagaikan cacing liar ditepian aspal
lalu terinjak dan tercabik jejak pengembara

malamku mencoba berteriak
memanggil bintang nan jauh meninggalkanku
larut terbawa rotasi
entah terdampar atau sengaja singgah dimalam venus

malamku, iseng sendiri
menjaring gugusan bintang jatuh
atau puing meteor yang tersisa
tapi gerakku terlalu lamban
menangkap tanda-tanda gejala alam

malamku tak jua bintang bersinar
hanya kunang-kunang kurangkai sendiri
kusematkan dalam senandung rindu

Bks, Maret 2009

Tentang mimpi

disepanjang jalan ini, aku mencari bayangmu
mengumpulkan kembali kenangan dan mimpi
yang pernah kita titipkan pada matahari,
pada hujan dan lengkung pelangi

jika kau lewati jalan ini lagi, dik…
tolong kabarkan pada matahari
agar aku dapat menjemputmu disini (kan kubawa kau pergi)
bercinta diatas lengkung pelangi
manjakanmu hingga tutup usia nanti

Bks, Juli’ 09
Tag : Sastra
Back To Top