mamak

MAMAK..
Itulah julukan yang aku berikan kepada seorang perempuan lemah yang merasa sok perkasa, perempuan bertangan besi yang selalu merasa paling benar sedunia. Perempuan tergalak dan terotoriter yang pernah aku jumpai. Perempuan yang aku benci sekaligus aku sayang. Perempuan yang paling aku takuti sekaligus kucintai. Dialah ibuku, “Mamak” begitulah aku dan kedua kakakku memanggilnya.

Aku, Mamak, Bapak, dan dua orang kakakku tinggal di sebuah desa yang terletak di pinggiran kota wonogiri, tepatnya di dusun ngembes, kelurahan punduhsari, kecamatan manyaran, kabupaten wonogiri. Mungkin kalian ndak pernah denger, tapi itu masih wilayah Republik Indonesia kok. Yang paling membanggakan didusunku adalah gotong royongnya. Selain juga menjunjung tinggi nilai-nilai adat, sopan-santun, unggah-ungguh,tatakrama, dan tepa selira.

Rumah didusun kami memang jaraknya masih berjauhan, setiap rumah memiliki teras atau sering disebut emper, dan latar atau halaman seluas lapangan bulu tangkis. Namun meskipun demikian suara mamak saat memanggilku dengan julukan thole mampu membangunkan sapi Pak RT yang sedang asyik bobok siang, Heheheee…..

Mamak memang terkenal sebagai ibu paling galak sak ndeso, paling bawel sekecamatan, dan paling repot se kabupaten. Mungkin urat saraf mamak akan tegang jika satu hari saja tidak memarahiku, membentak kedua kakakku, juga mengomeli Bapak.

Tapi mamak gak selamanya galak, kadang ia juga humoris. Aku paling suka kalo mamak sedang menyanyi, dia menyebutnya rengeng-rengeng, dalam istilah jawanya ngidung. Meskipun aku gak tau apa artinya, tapi aku suka sekali. Menurutku suara mamak sangat bagus, mendayu-dayu, kadang juga melengking seperti sinden. Apalagi kalau lagi main cangkriman/ tebak-tebakan , tiap hari mamak pasti punya cangkriman yang baru. Aku masih ingat cangkriman andalannya “Pitik walik sobo kebon opo..?”
serentak kami bertiga menjawabnya “NANAS……”.
Duuuhhh………… Mamak….. Mamak……………













Jaman cilik bien 1992
Tag : Sastra
Back To Top