Cerpen Giri Soeprijanto - KANGEN

KANGEN
Langit gelap merayapi sudut-sudut kota, anginpun seperti memperlihatkan kedahsyatannya berputar-putar,  berkejaran dari timur ke barat, dari barat ke timur saling bertubrukan mengeluarkan suara-suara mendesis, bergemuruh diikuti dengan kilauan blitz langit yang desertai dengan gelegar dahsyat, menjadikan suasana senja dikota itu terasa kian mencekam.
Didalam sebuah gedung bertingkat megah, dengan bermacam fasilitas mewah mulai dari AC, lift, kamera cctv, dan sensor-sensor otomatis lainnya, duduk seorang perempuan muda berpakaian rapi dengan kemeja blues dan sepatu hak tinggi, tampak jelas cermin seorang wanita karier.  Matanya terus tertuju pada notebook dihadapannya, tangannya yang halus dan lentik sesekali menekan-nekan keyboard. Entah apa yang ia kerjakan, hingga tak menghiraukan betapa gelapnya senja diluar sana. Ia baru tersadar ketika matanya melirik jam tangan yang melingkar dilengannya,
“sudah jam 6, aku harus telepon ibu kalo aku pulang telat lagi” gumamnya dalam hati.
Ia mengambil handphone keluaran terbaru yang sejak tadi tergeletak diatas sofa,
“iya bu, ninik pasti pulang kok, ibu sudah makan..?  obatnya jangan lupa diminum ya bu, assalamu’alaikum”

 **
Andini prastiwi gadis muda berwajah ayu dengan perawakan proporsional seperti yang didambakan perempuan-perempuan pada umumnya, melangkah menyusuri lobby sebuah gedung  megah menuju parkiran, matanya tampak sendu, berawan pekat seperti langit senja  kota itu. Sesekali ia tersenyum  mengiyakan sapaan orang-orang yang dilaluinya, tanpa melirik sedikitpun. Tatapannya kosong kedepan, pikirannya menerawang jauh, jauh ketempat dimana ia bisa melihat, memeluk, mencium tangan, dan menyuapi  sosok laki-laki yang selalu ia rindukan, ya sosok seorang ayah yang hingga saat ini entah dimana keberadaannya. Dadanya terasa kian menyesak ketika ia teringat problematika keluarga yang ia hadapi saat ini. Kenangan terakhirnya dengan sosok seorang ayah adalah ketika ia berusia empat tahun, ketika itu ayah dan ibunya bertengkar hebat. Masalah orang dewasa, begitulah ibu menjelaskan kepadanya. Saat itu ia belum bisa mengartikan kata-kata “masalah orang dewasa”, ia juga tidak tau harus berbuat apa, dan apa yang yang bakal terjadi. Ia hanya bisa menangis ketika ayah dan ibunya saling menunjuk, saling melotot, dan piring-piring, pot bunga, guci, cermin diruang tamu pun pecah berhamburan memenuhi lantai. Sejak saat, itu ia tak pernah memiliki figur seorang ayah lagi dirumahnya, seorang kepala rumah tangga yang bisa mengayomi dan dan diandalkan. Bahkan ketika teman-teman sekelas mengejeknya bahwa ayahnya minggat, adapula yang mengolok-olok ayahnya telah mati ditabrak kereta. Ia benar-benar butuh figur seorang ayah yang bisa menjadi wali saat menikah nanti, menjadi orang yang pertama kali menasehati ketika ia pulang terlarut malam. Tapi dimana ayah sekarang ? kemana aku harus mencarinya ? seperti apa wajah ayah sekarang ? Pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah mendapatkan jawaban.
Arini benar-benar rindu ayah, arini ingin memeluk ayah, mencium, dan bersujud dikakinya.  Disaat kerinduan itu kian menggerus hati, melemahkan seluruh urat nadi, menandus keringkan kerongkongan. Beruntung ia masih memiliki Pak jiman tukang parkir yang mau menemaninya ngobrol diparkiran sebelum ia pulang kerumah dengan mobil sedan warna hitam inventaris dari kantor. Atau Pak karno, office boy yang sudah sekian puluh tahun mengabdi untuk kantor. Beliau selalu menyempatkan diri dan tak pernah menolak, bahkan menawarkan diri menjadi teman curhat, memberi nasehat, dan motivasi kepadanya walau hanya sebentar saja,  disaat-saat jam kantor sedang istirahat atau saat pak karno menyiapkan teh hangat pagi. Mungkin beliau-beliau ini seumuran dengan ayah atau paling selisih sedikit.












**
Arini memarkir mobilnya digarasi rumah yang terbilang cukup mewah, yang terletak didalam komplek yang mewah pula. Rumah itu tinggal satu-satunya peninggalan ayah, selain mobil dan beberapa ratus meter bidang tanah yang yang telah ludes terjual untuk biaya hidupnya bersama ibu dan adiknya. Ia berjalan dengan gontai, membuka daun pintu menuju ruang tengah. Sepi, benar-benar sepi seperti tak berpenghuni. Diletakkannya tas ditangannya diatas sofa, kemudian ia berjalan menuju sebuah kamar yang pintunya sedikit terbuka, tampak didalam kamar itu seorang perempuan tua berbaring diatas ranjang, ditemani seorang pembantu setengah baya yang sedang memijit-mijit kaki wanita tua itu. Perempuan itu adalah ibunya, ibu yang sudah melahirkannya, sekaligus ibu yang telah memisahkan ia dengan ayahnya. Tapi apapun itu, bagi arini atau ninik, ninik adalah panggilan kesayangan ayah dan ibunya sejak kecil, beliau tetap ibu yang aku sayangi dan aku hormati.
“Ninik, kamu sudah pulang nak ?, sudah tau dimana ayahmu sekarang nak ? “
“Belum bu, ninik sudah mencari kemana-mana, memasang iklan dikoran, diradio, tv, internet.....   ninik juga sudah mencarinya difacebook, tweeter, dan semua jejaring sosial didunia maya, tapi belum ada titik terang bu...” Air matanya meleleh…..
“Kamu harus menemukan ayahmu nak, kamu harus janji pada ibu..”
“Ibu tidak akan mati dengan tenang sebelum bertemu dan meminta maaf pada ayahmu.”
Kedua perempuan itu saling berpelukan dan menangis sejadi-jadinya. Pemandangan ini selalu, dan selalu terjadi setiap hari, setiap arini pulang dari kantor, setiap ninik menemui ibunya, setiap dingin malam mulai menyelimuti kota. Mereka tidak akan bisa tidur dengan nyenyak sebelum pemandangan yang setiap hari dilihat, bahkan dinikmati pembantunya itu terjadi.
Dalam setiap jengkal malam arini selalu dibayangi mimpi-mimpi seorang ayah, dan dalam setiap mili bahkan micro mili dari sekian ribu malam yang dilalui ibunya, akan selalu dihantui rasa bersalah kepada suaminya yang rela meninggalkan rumah karena mengetahui istrinya berselingkuh dengan supir pribadinya. Ayah arini memilih pergi dari rumah karena ia tahu anak-anaknya, yaitu arini dan adiknya yang sekarang sedang kerja diluar kota, jauh membutuhkan kasih sayang seorang ibu, ketimbang belaian seorang ayah. Beliau tidak tega melihat anak-anaknya menderita, karena telah memisahkan kedua anaknya dari pelukan seorang ibu. Sebab pada saat kejadian yang membuat arini kehilangan seorang ayah itu ia baru berusia 4 tahun dan adiknya berusia 1 tahun.

**
Seperti hari-hari sebelumnya arini selalu datang ke kantor lebih awal untuk sekedar ngobrol dan berbincang dengan pak jiman, atau pak karno. Tapi tak seperti biasanya pagi itu mereka terlihat lebih hangat.  Pak jiman yang pendiam dan tertutup kini terbuka dan lebih banyak bercerita tentang dirinya daripada mendengarkan cerita arini. Pak jiman menanyakan alamat dan nama ibu arini, beliau juga menanyakan tentang ayahnya, kemudian beliau menangis......

Bekasi, Oktober 2010
Tag : Sastra
Back To Top