• Breaking News

    Informasi Tentang Internet marketing, Artikel Dan Tips Menarik Lainnya

    Alt/Text Gambar

    Puisi WS Rendra-Blues untuk Bonnie

    PUISI WS RENDRA-Blues untuk Bonnie


    Siapa yang tidak pernah mendengar nama W.S. Rendra, Sosok seorang penyair yang disegani dan dikagumi diseluruh tanah air tentang karya-karyanya dalam bentuk puisi, prosa, dalam segala hal dibidang sastra. Bahkan mungkin lebih dari separuh hidupnya ia habiskan untuk seni dan sastra.

    Bahkan nama W.S. Rendra sudah menjadi semacam mitos dalam ranah sastra indonesia. Gebrakannya dalam kemunculan puisi-puisi baladanya, atau teater "mini kata" nya, atau puisi-puisi pamfletnya seakan menjadi penanda kegairahan dunia sastra di indonesia.

    Sebagai seorang penyair, Rendra juga dikenal memiliki keunikan dalam mengolah filsafat, agama, dan dunia mistik kedalam sajak-sajaknya. Dengan keanggunan seekor burung merak, dia bergerak dari satu tepian ke tepian lainnya. Itulah sedikit sinopsis/ pengantar dari salah satu buku kumpulan puisi WS. Rendra yang saya beli beberapa tahun yang lalu.

    puisi-ws.rendra
    Dan ini adalah salah satu penggalan puisi karya WS. Rendra-Blues untuk Bonnie yang terdapat dalam bukunya yang berjudul Stanza dan Blues.


    Blues untuk Bonnie

    Kota Bostron lusuh dan layu
    kerna angin santer, udara jelek,
    dan malam larut yang celaka.
    Di dalam café itu
    seorang penyanyi Negro tua
    bergitar dan bernyanyi.
    Hampir-hampir tanpa penonton.
    Cuma tujuh pasang laki dan wanita
    berdusta dan bercintaan di dalam gelap
    mengepulkan asap rokok kelabu,
    seperti tungku-tungku yang menjengkelkan.

    Ia bernyanyi.
    Suaranya dalam.
    Lagu dan kata ia kawinkan
    Lagu beranak seratus makna.
    Georgia. Georgia yang jauh.
    Di sana gubug-gubug kaum Negro.
    Atap-atap yang bocor.
    Cacing tanah dan pellagra
    Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.

    Orang-orang berhenti bicara.
    Dalam café tak ada suara.
    Kecuali angin menggetarkan kaca jendela.
    Georgia.
    Dengan mata terpejam
    si Negro menegur sepi.
    Dan sepi menjawab
    dengan sebuah tendangan jitu
    tepat di perutnya.

    Maka dalam blingsatan
    ia bertingkah bagai gorilla.
    Gorilla tua yang bongkok
    meraung-raung.
    Sembari jari-jari galak di gitarnya
    mencakar dan mencakar
    menggaruki rasa gatal di sukmanya.

    Georgia.
    Tak ada lagi tamu baru.
    Udara di luar jekut.
    Anginnya tambah santer.
    Dan di hotel
    menunggu ranjang yang dingin.
    Serentak dilihat muka majikan café jadi kecut
    lantaran malam yang bangkrut
    Negro itu menengadah.
    Lehernya tegang.
    Matanya kering dan merah
    menatap ke surga.
    Dan surga.
    melemparkan sebuah jala
    yang menyergap tubuhnya

    Bagai ikan hitam
    ia menggelepar dalam jala
    Jumpalitan
    dan sia-sia.
    Marah
    terhina
    dan sia-sia.

    Angin bertalu-talu di alun-alun Boston.
    Bersuit-suit di menara gereja-gereja.
    Sehingga malam koyak moyak.
    Si Negro menghentakkan kakinya
    Menyanyikan kutuk dan serapah.
    Giginya putih berkilatan
    meringis dalam dendam.
    Bagai batu lumutan
    wajahnya kotor, basah dan tua

    Maka waktu bagaikan air bah
    melanda sukmanya yang lelah.
    Sedang di tengah-tengah itu semua
    ia rasakan sentakan yang hebat
    pada kakinya.
    Kaget
    hampir-hampir tak percaya
    ia merasa
    encok yang pertama
    menyerang lututnya.

    Menuruti adat pertunjukan
    dengan kalem ia menahan kaget.
    Pelan-pelan duduk di kursi
    Seperti guci retak
    di toko tukang loak.
    Baru setelah menarik napas panjang
    ia kembali bernyanyi.

    Georgia.
    Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.
    Istrinya masih di sana
    setia tapi merana
    Anak-anak Negro bermain di selokan
    tak krasan sekolah.
    Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual
    banyak hutangnya.
    Dan di hari Minggu
    mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro
    Di sana bernyanyi
    terpesona pada harapan akherat
    kerna di dunia mereka tak berdaya.

    Georgia.
    Lumpur yang lekat di sepatu.
    Gubug-gubug yang kurang jendela.
    Duka dan dunia
    sama-sama telah tua
    Sorga dan neraka
    keduanya usang pula.
    Dan Georgia?
    Ya, Tuhan
    Setelah begitu jauh melarikan diri,
    masih juga Georgia menguntitnya.

    W.S. Rendra

    Fashion

    DMCA.com Protection Status

    Beauty

    Travel