• Breaking News

    Informasi Tentang Internet marketing, Artikel Dan Tips Menarik Lainnya

    Alt/Text Gambar

    Kumpulan Puisi Chairil Anwar

    Kumpulan Puisi Chairil Anwar


    Chairil anwar adalah seorang penyair yang lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum kemudian pindah ke Batavia (Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940. Chairil anwar mulai mempublikasikan puisi pertamanya pada tahun 1942. Puisinya menyangkut berbagai macam tema, mulai dari pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga multi interpretasi.

    Berikut adalah beberapa kumpulan sajak dan puisi Chairil Anwar yang saya dapatkan dari berbagai macam sumber kemudian saya rangkum kedalam sebuah posting ini. Dengan tujuan untuk memudahkan para pembaca dan penggemar sastra puisi yang hendak mencari informasi tentang puisi-puisi Chairil anwar. Salah satu puisi karya Chairil anwar yang sangat terkenal adalah puisi yang berjudul AKU, yang dulu sering kita jumpai waktu kita masih SD dan SMP dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.

    kumpulan puisi chairil anwar

    Puisi Chairil Anwar - Aku*


    Kalau sampai waktuku

    'Ku mau tak seorang 'kan merayu

    Tidak juga kau

    Tak perlu sedu sedan itu

    Aku ini binatang jalang

    Dari kumpulannya terbuang

    Biar peluru menembus kulitku

    Aku tetap meradang menerjang

    Luka dan bisa kubawa berlari

    Berlari

    Hingga hilang pedih peri

    Dan aku akan lebih tidak peduli

    Aku mau hidup seribu tahun lagi

    Maret 1943




    Puisi Chairil Anwar - Cintaku Jauh Di Pulau

    Cintaku jauh di pulau,
    gadis manis, sekarang iseng sendiri

    Perahu melancar, bulan memancar,
    di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
    angin membantu, laut terang, tapi terasa
    aku tidak ‘kan sampai padanya.

    Di air yang tenang, di angin mendayu,
    di perasaan penghabisan segala melaju
    Ajal bertakhta, sambil berkata:
    “Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

    Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
    Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
    Mengapa Ajal memanggil dulu
    Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

    Manisku jauh di pulau,
    kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

    1946

    Puisi Chairil Anwar - Diponegoro

    Di masa pembangunan ini
    tuan hidup kembali
    Dan bara kagum menjadi api

    Di depan sekali tuan menanti
    Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
    Pedang di kanan, keris di kiri
    Berselempang semangat yang tak bisa mati.

    MAJU


    Ini barisan tak bergenderang-berpalu
    Kepercayaan tanda menyerbu.

    Sekali berarti
    Sudah itu mati.

    MAJU

    Bagimu Negeri
    Menyediakan api.

    Punah di atas menghamba
    Binasa di atas ditindas
    Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
    Jika hidup harus merasai

    Maju
    Serbu
    Serang
    Terjang

    (Februari 1943)

    Puisi Chairi Anwar - Doa

    kepada pemeluk teguh

    Tuhanku
    Dalam termangu
    Aku masih menyebut namamu

    Biar susah sungguh
    mengingat Kau penuh seluruh

    cahyaMu panas suci
    tinggal kerdip lilin di kelam sunyi

    Tuhanku

    aku hilang bentuk
    remuk

    Tuhanku

    aku mengembara di negeri asing

    Tuhanku
    di pintuMu aku mengetuk
    aku tidak bisa berpaling

    13 November 1943


    Puisi Chairil Anwar - Karawang Bekasi


    Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
    Tidak bisa teriak "Merdeka" dan angkat senjata lagi
    Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
    Terbayang kami maju dan berdegap hati?
    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
    Kami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
    Kenang, kenanglah kami
    Kami sudah coba apa yang kami bisa
    Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
    Kami sudah beri kami punya jiwa
    Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwa
    Kami cuma tulang-tulang berserakan
    Tapi adalah kepunyaanmu
    Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
    Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapan
    Atau tidak untuk apa-apa
    Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
    Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
    Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
    Kenang-kenanglah kami
    Menjaga Bung Karno
    Menjaga Bung Hatta
    Menjaga Bung Syahrir
    Kami sekarang mayat
    Berilah kami arti
    Berjagalah terus di garsi batas pernyataan dan impian
    Kenang-kenanglah kami
    Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
    Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi

    Puisi Chairil Anwar - Hampa


    kepada sri

    Sepi di luar. Sepi menekan mendesak.
    Lurus kaku pohonan. Tak bergerak
    Sampai ke puncak. Sepi memagut,
    Tak satu kuasa melepas-renggut
    Segala menanti. Menanti. Menanti.

    Sepi.
    Tambah ini menanti jadi mencekik
    Memberat-mencekung punda
    Sampai binasa segala. Belum apa-apa
    Udara bertuba. Setan bertempik
    Ini sepi terus ada. Dan menanti.

    Puisi Chairil Anwar - Aku Berada Kembali


    Aku berada kembali. Banyak yang asing:
    air mengalir tukar warna,kapal kapal,
    elang-elang
    serta mega yang tersandar pada khatulistiwa lain;

    rasa laut telah berubah dan kupunya wajah
    juga disinari matari lain.

    Hanya
    Kelengangan tinggal tetap saja.
    Lebih lengang aku di kelok-kelok jalan;
    lebih lengang pula ketika berada antara
    yang mengharap dan yang melepas.

    Telinga kiri masih terpaling
    ditarik gelisah yang sebentar-sebentar
    seterang
    guruh

    1949

    Puisi Chairil Anwar - Rumahku

    Rumahku dari unggun-unggun sajak
    Kaca jernih dari segala nampak

    Kulari dari gedung lebar halaman
    Aku tersesat tak dapat jalan

    Kemah kudirikan ketika senjakala
    Dipagi terbang entah kemana

    Rumahku dari unggun-unggun sajak
    Disini aku berbini dan beranak

    Rasanya lama lagi, tapi datangnya datang
    Aku tidak lagi meraih petang
    Biar berleleran kata manis madu
    jika menagih yang satu

    April 1943

    Puisi Chairil Anwar - Sajak Putih

    Bersandar pada tari warna pelangi
    Kau depanku bertudung sutra senja
    Di hitam matamu kembang mawar dan melati
    Harum rambutmu mengalun bergelut senda

    Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
    Meriak muka air kolam jiwa
    Dan dalam dadaku memerdu lagu
    Menarik menari seluruh aku

    Hidup dari hidupku, pintu terbuka
    Selama matamu bagiku menengadah
    Selama kau darah mengalir dari luka
    Antara kita Mati datang tidak membelah…

    Puisi Chairil Anwar - Senja Di Pelabuhan Kecil

    Ini kali tidak ada yang mencari cinta
    di antara gudang, rumah tua, pada cerita
    tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
    menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

    Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
    menyinggung muram, desir hari lari berenang
    menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
    dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

    Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
    menyisir semenanjung, masih pengap harap
    sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
    dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

    1946

    Puisi Chairil Anwar - Mirat Muda, Chairil Muda

    Dialah, Miratlah, ketika mereka rebah,
    menatap lama ke dalam pandangnya
    coba memisah mata yang menantang
    yang satu tajam dan jujur yang sebelah.

    Ketawa diadukannya giginya pada mulut Chairil;
    dan bertanya: Adakah, adakah
    kau selalu mesra dan aku bagimu indah?
    Mirat raba urut Chairil, raba dada
    Dan tahulah dia kini, bisa katakan
    dan tunjukkan dengan pasti di mana
    menghidup jiwa, menghembus nyawa
    Liang jiwa-nyawa saling berganti.
    Dia rapatkan

    Dirinya pada Chairil makin sehati;
    hilang secepuh segan, hilang secepuh cemas
    Hiduplah Mirat dan Chairil dengan dera,
    menuntut tinggi tidak setapak berjarak
    dengan mati

    -di pegunungan 1943, ditulis 1949

    Puisi Chairil Anwar - Maju

    Ini barisan tak bergenderang-berpalu
    Kepercayaan tanda menyerbu.

    Sekali berarti
    Sudah itu mati.

    MAJU

    Bagimu Negeri
    Menyediakan api.

    Punah di atas menghamba
    Binasa di atas ditindas
    Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
    Jika hidup harus merasai

    Maju
    Serbu
    Serang
    Terjang

    Februari 1943

    Puisi Chairil Anwar - Malam

    Mulai kelam
    belum buntu malam
    kami masih berjaga
    Thermopylae?

    jagal tidak dikenal?
    tapi nanti
    sebelum siang membentang
    kami sudah tenggelam hilang

    Zaman Baru,

    **Itulah kumpulan puisi Chairil anwar yang saya abadikan dalam posting kali ini, Semoga bermanfaat dan selamat menikmati.

    Fashion

    DMCA.com Protection Status

    Beauty

    Travel