• Breaking News

    Informasi Tentang Internet marketing, Artikel Dan Tips Menarik Lainnya

    Alt/Text Gambar

    Puisi WS. Rendra

    Kumpulan Puisi WS. Rendra

    Siapa yang tidak tahu sosok Alm. W.S. Rendra, salah seorang penyair dan sastrawan yang sangat berpengaruh bagi dunia sastra di dunia khususnya indonesia. Bahkan puisi-puisi karya ws. rendra sampai saat ini masih dijadikan sebagai referensi bagi para penyair dan sastrawan masa kini.

    Nama W.S. Rendra sudah menjadi semacam mitos dalam ranah sastra indonesia. Gebrakannya dalam kemunculan puisi-puisi baladanya, atau teater "mini kata" nya, atau puisi-puisi pamfletnya seakan menjadi penanda kegairahan dunia sastra di indonesia.

    Untuk temans yang ingin kembali mengenang tentang puisi ws. Rendra disini saya akan berikan sedikit dari beberapa kumpulan puisi ws.rendra yang cukup terkenal diantaranya adalah Puisi Blues untuk bonnie, Aku tulis pamplet ini, Lagu serdadu, Sajak tangan, Tahanan, dan masih banyak lagi puisi-puisi ws. rendra yang tidak dapat saya tuliskan satu persatu. Langsung saja, inilah beberapa kumpulan puisi ws. rendra. Selamat menikmati.

    puisi ws.rendra

     

    Puisi W.S. Rendra : Aku Tulis Pamplet Ini

    Aku tulis pamplet ini
    karena lembaga pendapat umum
    ditutupi jaring labah-labah
    Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,
    dan ungkapan diri ditekan
    menjadi peng – iya – an
    Apa yang terpegang hari ini
    bisa luput besok pagi
    Ketidakpastian merajalela.
    Di luar kekuasaan kehidupan menjadi teka-teki
    menjadi marabahaya
    menjadi isi kebon binatang

    Apabila kritik hanya boleh lewat saluran resmi,
    maka hidup akan menjadi sayur tanpa garam
    Lembaga pendapat umum tidak mengandung pertanyaan.
    Tidak mengandung perdebatan
    Dan akhirnya menjadi monopoli kekuasaan

    Aku tulis pamplet ini
    karena pamplet bukan tabu bagi penyair
    Aku inginkan merpati pos.
    Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore di tanganku
    Aku ingin membuat isyarat asap kaum Indian.

    Aku tidak melihat alasan
    kenapa harus diam tertekan dan termangu.
    Aku ingin secara wajar kita bertukar kabar.
    Duduk berdebat menyatakan setuju dan tidak setuju.

    Kenapa ketakutan menjadi tabir pikiran ?
    Kekhawatiran telah mencemarkan kehidupan.
    Ketegangan telah mengganti pergaulan pikiran yang merdeka.

    Matahari menyinari airmata yang berderai menjadi api.
    Rembulan memberi mimpi pada dendam.
    Gelombang angin menyingkapkan keluh kesah

    yang teronggok bagai sampah
    Kegamangan. Kecurigaan.
    Ketakutan.
    Kelesuan.

    Aku tulis pamplet ini
    karena kawan dan lawan adalah saudara
    Di dalam alam masih ada cahaya.
    Matahari yang tenggelam diganti rembulan.
    Lalu besok pagi pasti terbit kembali.
    Dan di dalam air lumpur kehidupan,
    aku melihat bagai terkaca :
    ternyata kita, toh, manusia !

    Pejambon Jakarta 27 April 1978

    Puisi W.S. Rendra : Sajak Pulau Bali

    Sebab percaya akan keampuhan industri
    dan yakin bisa memupuk modal nasional
    dari kesenian dan keindahan alam,
    maka Bali menjadi obyek pariwisata.

    Betapapun:
    tanpa basa-basi keyakinan seperti itu,
    Bali harus dibuka untuk pariwisata.
    Sebab:
    pesawat-pesawat terbang jet sudah dibikin,
    dan maskapai penerbangan harus berjalan.
    Harus ada orang-orang untuk diangkut.
    Harus diciptakan tempat tujuan untuk dijual.

    Dan waktu senggang manusia,
    serta masa berlibur untuk keluarga,
    harus bisa direbut oleh maskapai
    untuk diindustrikan.

    Dan Bali,
    dengan segenap kesenian,
    kebudayaan, dan alamnya,
    harus bisa diringkaskan,
    untuk dibungkus dalam kertas kado,
    dan disuguhkan pada pelancong.

    Pesawat terbang jet di tepi rimba Brazilia,
    di muka perkemahan kaum Badui,
    di sisi mana pun yang tak terduga,
    lebih mendadak dari mimpi,
    merupakan kejutan kebudayaan.

    Inilah satu kekuasaan baru.
    Begitu cepat hingga kita terkesiap.
    Begitu lihai sehingga kita terkesima.

    Dan sementara kita bengong,
    pesawat terbang jet yang muncul dari mimipi,
    membawa bentuk kekuatan modalnya :
    lapangan terbang. “hotel – bistik – dan – coca cola”,
    jalan raya, dan para pelancong.
    “Oh, look, honey – dear !
    Lihat orang-orang pribumi itu!
    Mereka memanjat pohon kelapa seperti kera.
    Fantastic ! Kita harus memotretnya !

    Awas ! Jangan dijabat tangannya !
    senyum saja and say hello.
    You see, tangannya kotor
    Siapa tahu ada telor cacing di situ.

    My God, alangkah murninya mereka.
    Ia tidak menutupi teteknya !
    Look, John, ini benar-benar tetek.
    Lihat yang ini ! O, sempurna !
    Mereka bebas dan spontan.
    Aku ingin seperti mereka…..
    Eh, maksudku…..
    Okey ! Okey !….Ini hanya pengandaian saja.
    Aku tahu kamu melarang aku tanpa beha.
    Look, now, John, jangan cemberut !
    Berdirilah di sampingnya,
    aku potret di sini.
    Ah ! Fabolous !”

    Dan Bank Dunia
    selalu tertarik membantu negara miskin
    untuk membuat proyek raksasa.
    Artinya : yang 90 % dari bahannya harus diimpor.

    Dan kemajuan kita
    adalah kemajuan budak
    atau kemajuan penyalur dan pemakai.

    Maka di Bali
    hotel-hotel pribumi bangkrut
    digencet oleh packaged tour.

    Kebudayaan rakyat ternoda
    digencet standar dagang internasional.

    Tari-tarian bukan lagi satu mantra,
    tetapi hanya sekedar tontonan hiburan.
    Pahatan dan ukiran bukan lagi ungkapan jiwa,
    tetapi hanya sekedar kerajinan tangan.

    Hidup dikuasai kehendak manusia,
    tanpa menyimak jalannya alam.
    Kekuasaan kemauan manusia,
    yang dilembagakan dengan kuat,
    tidak mengacuhkan naluri ginjal,
    hati, empedu, sungai, dan hutan.
    Di Bali :
    pantai, gunung, tempat tidur dan pura,
    telah dicemarkan

    Pejambon, 23 Juni 1977

    Puisi W.S. Rendra : Blues untuk Bonnie

    Kota Bostron lusuh dan layu
    kerna angin santer, udara jelek,
    dan malam larut yang celaka.
    Di dalam café itu
    seorang penyanyi Negro tua
    bergitar dan bernyanyi.
    Hampir-hampir tanpa penonton.
    Cuma tujuh pasang laki dan wanita
    berdusta dan bercintaan di dalam gelap
    mengepulkan asap rokok kelabu,
    seperti tungku-tungku yang menjengkelkan.


    Ia bernyanyi.
    Suaranya dalam.
    Lagu dan kata ia kawinkan
    Lagu beranak seratus makna.
    Georgia. Georgia yang jauh.
    Di sana gubug-gubug kaum Negro.
    Atap-atap yang bocor.
    Cacing tanah dan pellagra
    Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.

    Orang-orang berhenti bicara.
    Dalam café tak ada suara.
    Kecuali angin menggetarkan kaca jendela.
    Georgia.
    Dengan mata terpejam
    si Negro menegur sepi.
    Dan sepi menjawab
    dengan sebuah tendangan jitu
    tepat di perutnya.

    Maka dalam blingsatan
    ia bertingkah bagai gorilla.
    Gorilla tua yang bongkok
    meraung-raung.
    Sembari jari-jari galak di gitarnya
    mencakar dan mencakar
    menggaruki rasa gatal di sukmanya.

    Georgia.
    Tak ada lagi tamu baru.
    Udara di luar jekut.
    Anginnya tambah santer.
    Dan di hotel
    menunggu ranjang yang dingin.
    Serentak dilihat muka majikan café jadi kecut
    lantaran malam yang bangkrut
    Negro itu menengadah.
    Lehernya tegang.
    Matanya kering dan merah
    menatap ke surga.
    Dan surga.
    melemparkan sebuah jala
    yang menyergap tubuhnya

    Bagai ikan hitam
    ia menggelepar dalam jala
    Jumpalitan
    dan sia-sia.
    Marah
    terhina
    dan sia-sia.

    Angin bertalu-talu di alun-alun Boston.
    Bersuit-suit di menara gereja-gereja.
    Sehingga malam koyak moyak.
    Si Negro menghentakkan kakinya
    Menyanyikan kutuk dan serapah.
    Giginya putih berkilatan
    meringis dalam dendam.
    Bagai batu lumutan
    wajahnya kotor, basah dan tua

    Maka waktu bagaikan air bah
    melanda sukmanya yang lelah.
    Sedang di tengah-tengah itu semua
    ia rasakan sentakan yang hebat
    pada kakinya.
    Kaget
    hampir-hampir tak percaya
    ia merasa
    encok yang pertama
    menyerang lututnya.

    Menuruti adat pertunjukan
    dengan kalem ia menahan kaget.
    Pelan-pelan duduk di kursi
    Seperti guci retak
    di toko tukang loak.
    Baru setelah menarik napas panjang
    ia kembali bernyanyi.

    Georgia.
    Georgia yang jauh disebut dalam nyanyinya.
    Istrinya masih di sana
    setia tapi merana
    Anak-anak Negro bermain di selokan
    tak krasan sekolah.
    Yang tua-tua jadi pemabuk dan pembual
    banyak hutangnya.
    Dan di hari Minggu
    mereka pergi ke gereja yang khusus untuk Negro
    Di sana bernyanyi
    terpesona pada harapan akherat
    kerna di dunia mereka tak berdaya.

    Georgia.
    Lumpur yang lekat di sepatu.
    Gubug-gubug yang kurang jendela.
    Duka dan dunia
    sama-sama telah tua
    Sorga dan neraka
    keduanya usang pula.
    Dan Georgia?
    Ya, Tuhan
    Setelah begitu jauh melarikan diri,
    masih juga Georgia menguntitnya.

    W.S. Rendra 



    Puisi W.S. Rendra : Lagu Serdadu

    Kami masuk serdadu dan dapat senapang
    ibu kami nangis tapi elang toh harus terbang
    Yoho, darah kami campur arak!
    Yoho, mimpi kami patung-patung dari perak

    Nenek cerita pulau-pulau kita indah sekali
    Wahai, tanah yang baik untuk mati
    Dan kalau ku telentang dengan pelor timah
    cukilah ia bagi puteraku di rumah









    Puisi W.S. Rendra : Sajak Tangan

    Inilah tangan seorang mahasiswa,
    tingkat sarjana muda.
    Tanganku. Astaga.

    Tanganku menggapai,
    yang terpegang anderox hostes berumbai,
    Aku bego. Tanganku lunglai.

    Tanganku mengetuk pintu,
    tak ada jawaban.
    Aku tendang pintu,
    pintu terbuka.
    Di balik pintu ada lagi pintu.
    Dan selalu :
    ada tulisan jam bicara
    yang singkat batasnya.

    Aku masukkan tangan-tanganku ke celana
    dan aku keluar mengembara.
    Aku ditelan Indonesia Raya.

    Tangan di dalam kehidupan
    muncul di depanku.
    Tanganku aku sodorkan.
    Nampak asing di antara tangan beribu.
    Aku bimbang akan masa depanku.

    Tangan petani yang berlumpur,
    tangan nelayan yang bergaram,
    aku jabat dalam tanganku.
    Tangan mereka penuh pergulatan
    Tangan-tangan yang menghasilkan.
    Tanganku yang gamang
    tidak memecahkan persoalan.

    Tangan cukong,
    tangan pejabat,
    gemuk, luwes, dan sangat kuat.
    Tanganku yang gamang dicurigai,
    disikat.

    Tanganku mengepal.
    Ketika terbuka menjadi cakar.
    Aku meraih ke arah delapan penjuru.
    Di setiap meja kantor
    bercokol tentara atau orang tua.
    Di desa-desa
    para petani hanya buruh tuan tanah.
    Di pantai-pantai
    para nelayan tidak punya kapal.
    Perdagangan berjalan tanpa swadaya.
    Politik hanya mengabdi pada cuaca…..
    Tanganku mengepal.
    Tetapi tembok batu didepanku.
    Hidupku tanpa masa depan.

    Kini aku kantongi tanganku.
    Aku berjalan mengembara.
    Aku akan menulis kata-kata kotor
    di meja rektor

    TIM, 3 Juli 1977

    Puisi W.S. Rendra : Sajak Widuri Untuk Joki Tobing

    Debu mengepul mengolah wajah tukang-tukang parkir.
    Kemarahan mengendon di dalam kalbu purba.
    Orang-orang miskin menentang kemelaratan.
    Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu,
    kerna wajahmu muncul dalam mimpiku.
    Wahai, Joki Tobing, kuseru kamu
    karena terlibat aku di dalam napasmu.
    Dari bis kota ke bis kota
    kamu memburuku.
    Kita duduk bersandingan,
    menyaksikan hidup yang kumal.
    Dan perlahan tersirap darah kita,
    melihat sekuntum bunga telah mekar,
    dari puingan masa yang putus asa.

    Nusantara Film, Jakarta, 9 Mei 1977


    Puisi W.S. Rendra : Sajak Sebotol Bir


    Menenggak bir sebotol,
    menatap dunia,
    dan melihat orang-orang kelaparan.
    Membakar dupa,
    mencium bumi,
    dan mendengar derap huru-hara.

    Hiburan kota besar dalam semalam,
    sama dengan biaya pembangunan sepuluh desa !
    Peradaban apakah yang kita pertahankan ?

    Mengapa kita membangun kota metropolitan ?
    dan alpa terhadap peradaban di desa ?
    Kenapa pembangunan menjurus kepada penumpukan,
    dan tidak kepada pengedaran ?

    Kota metropolitan di sini tidak tumbuh dari industri,
    Tapi tumbuh dari kebutuhan negara industri asing
    akan pasaran dan sumber pengadaan bahan alam
    Kota metropolitan di sini,
    adalah sarana penumpukan bagi Eropa, Jepang, Cina, Amerika,
    Australia, dan negara industri lainnya.

    Dimanakah jalan lalu lintas yang dulu ?
    Yang neghubungkan desa-desa dengan desa-desa ?
    Kini telah terlantarkan.
    Menjadi selokan atau kubangan.
    Jalanlalu lintas masa kini,
    mewarisi pola rencana penjajah tempo dulu,
    adalah alat penyaluran barang-barang asing dari
    pelabuhan ke kabupaten-kabupaten dan
    bahan alam dari kabupaten-kabupaten ke pelabuhan.

    Jalan lalu lintas yang diciptakan khusus,
    tidak untuk petani,
    tetapi untuk pedagang perantara dan cukong-cukong.

    Kini hanyut di dalam arus peradaban yang tidak kita kuasai.
    Di mana kita hanya mampu berak dan makan,
    tanpa ada daya untuk menciptakan.
    Apakah kita akan berhenti saampai di sini ?

    Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri ?
    Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik
    yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan……..
    harus senantiasa menghasilkan….
    Dan akhirnya memaksa negara lain
    untuk menjadi pasaran barang-barang kita ?

    Apakah pilihan lain dari industri hanya pariwisata ?
    Apakah pemikiran ekonomi kita
    hanya menetek pada komunisme dan kapitalisme ?
    Kenapa lingkungan kita sendiri tidak dikira ?
    Apakah kita akan hanyut saja
    di dalam kekuatan penumpukan
    yang menyebarkan pencemaran dan penggerogosan
    terhadap alam di luar dan alam di dalam diri manusia ?

    Kita telah dikuasai satu mimpi
    untuk menjadi orang lain.
    Kita telah menjadi asing
    di tanah leluhur sendiri.
    Orang-orang desa blingsatan, mengejar mimpi,
    dan menghamba ke Jakarta.
    Orang-orang Jakarta blingsatan, mengejar mimpi
    dan menghamba kepada Jepang,
    Eropa, atau Amerika.

    Pejambon, 23 Juni 1977

    Puisi W.S. Rendra : Sajak Gadis Dan Majikan

    Janganlah tuan seenaknya memelukku.
    Ke mana arahnya, sudah cukup aku tahu.
    Aku bukan ahli ilmu menduga,
    tetapi jelas sudah kutahu
    pelukan ini apa artinya…..

    Siallah pendidikan yang aku terima.
    Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing,
    kerapian, dan tatacara,
    Tetapi lupa diajarkan :
    bila dipeluk majikan dari belakang,
    lalu sikapku bagaimana !

    Janganlah tuan seenaknya memelukku.
    Sedangkan pacarku tak berani selangsung itu.
    Apakah tujuan tuan, sudah cukup aku tahu,
    Ketika tuan siku teteku,
    sudah kutahu apa artinya……

    Mereka ajarkan aku membenci dosa
    tetapi lupa mereka ajarkan
    bagaimana mencari kerja.
    Mereka ajarkan aku gaya hidup
    yang peralatannya tidak berasal dari lingkungan.
    Diajarkan aku membutuhkan
    peralatan yang dihasilkan majikan,
    dan dikuasai para majikan.
    Alat-alat rias, mesin pendingin,
    vitamin sintetis, tonikum,
    segala macam soda, dan ijazah sekolah.
    Pendidikan membuatku terikat
    pada pasar mereka, pada modal mereka.

    Dan kini, setelah aku dewasa.
    Kemana lagi aku ‘kan lari,
    bila tidak ke dunia majikan ?

    Jangnlah tuan seenaknya memelukku.
    Aku bukan cendekiawan
    tetapi aku cukup tahu
    semua kerja di mejaku
    akan ke sana arahnya.
    Jangan tuan, jangan !
    Jangan seenaknya memelukku.
    Ah, Wah .
    Uang yang tuan selipkan ke behaku
    adalah ijazah pendidikanku
    Ah, Ya.
    Begitulah.
    Dengan yakin tuan memelukku.
    Perut tuan yang buncit
    menekan perutku.
    Mulut tuan yang buruk
    mencium mulutku.
    Sebagai suatu kewajaran
    semuanya tuan lakukan.
    Seluruh anggota masyarakat membantu tuan.
    Mereka pegang kedua kakiku.
    Mereka tarik pahaku mengangkang.
    Sementara tuan naik ke atas tubuhku.

    Yogya, 10 Juli 1975

    Itulah beberapa kumpulan puisi karya W.S. Rendra, Semoga bermanfaat...

    Fashion

    DMCA.com Protection Status

    Beauty

    Travel