Apa Akibat Membentak Dan Memarahi Anak?

Apa Akibat Dari Membentak Anak Dan Memarahi Anak? - Artikel ini saya tulis karena terinspirasi oleh tetangga baru saya. Sekitar 3 bulan yang lalu saya memiliki tetangga baru yang menempati rumah kontrakan disebelah tempat tinggal saya. Sebagai orang yang sudah tinggal lebih lama didaerah itu saya mencoba untuk bersikap ramah menyapa saat bertemu muka dan sedikit ngobrol saling memperkenalkan diri dengan mereka. Saya ketahui bahwa mereka adalah satu keluarga dengan 4 orang anak (laki-laki semua), dimana anak pertama berumur sekitar 15 tahun, sedangkan anak bungsu berumur sekitar 5 atau 6 tahun (belum sekolah). Edaaann.. produktif sekali mereka, pikir saya dalam hati.

akibat-membentak-dan-memarahi-anak
Singkat cerita ternyata yang perempuan adalah seorang janda beranak 4 yang berasal dari sumatera (batak), sedangkan si pria adalah perjaka yang berasal dari jawa tengah. Perbedaan usia mereka juga terlampau cukup jauh, lebih tua si istri daripada suaminya.

Lupakan tentang latar belakang mereka, gak penting juga saya ceritakan disini. Satu hal yang pasti yang membuat saya miris dan tidak habis pikir adalah sifat dan tabiat dari si wanita atau ibu yang suka memarahi, membentak, dan memaki anaknya. Tidak tanggung-tanggung kata yang diucapkan adalah kata-kata yang menurut saya sangat kasar sekali, karena menyangkut nama-nama binatang di ragunan. Bahkan tidak jarang si ibu tersebut membentak dan memarahi anaknya dengan kalimat go**lok, to*ol, Anj**g, b*bi, dan sejenisnya.

Seumur-umur saya belum pernah melihat fenomena yang seperti ini, mendengarnya saja sudah bisa membuat hati saya menjadi deg-degan, takut, ngeri, dan miris. Bagaimana jika saya berada didalam keluarga itu? Mungkin kalau tidak sakit jiwa, saya akan kabur meninggalkan rumah.

Satu lagi yang saya ketahui ternyata si ibu tersebut yang notabene beragama nasrani, dulu pernah menikah dengan seorang lelaki muslim. Terbukti dari keempat anaknya semua memiliki nama yang berbau islami, Misalnya seperti Anak ketiga dan keempatnya bernama Alif dan Jami'. Anak yang lain saya tidak tahu namanya, karena yang sering saya dengar adalah nama tersebut. Sedangkan anak yang besar biasanya hanya dipanggi Abang.

Dalam hati saya bertanya-tanya, apakah mungkin sikap si ibu yang sering membentak dan memarahi anaknya tersebut adalah salah satu bentuk pelampiasan terhadap suami pertamanya yang beragama muslim. Yang mana tiga tahun yang lalu mereka telah bercerai, setelah bercerai dan memiliki suami baru mereka kembali memeluk agama nasrani. Saya juga pernah mendengar si ibu memarahi anaknya ketika si anak mengucap Assalamu'alaikum. Seperti apa bentuk marahnya, saya rasa tidak pantas jika saya tulis disini.

Mungkin kebencian si ibu tersebut terhadap suami pertamanya dilampiaskan terhadap anak-anaknya yang notabene adalah anak dari suami pertamanya. Entah apa alasan mereka bercerai, saya tidak tahu dan tidak pernah mau tahu. Yang saya tahu adalah bahwa cara wanita tersebut mendidik anaknya tidak benar karena dapa mempengaruhi pertumbuhan dan karakter sang anak tersebut. Entah menjadi seperti apa anak-anak tersebut kelak ketika dewasa. Yang pasti saat ini keempat anak tersebut menjadi sangat nakal-nakal sekali, mungkin hal tersebut akibat karena anak sering dibentak dan dimarahi orang tuanya. 

Kesimpulan:
1. Sebagai orang tua selayaknya kita memperlakukan anak-anak kita dengan penuh cinta dan kasih sayang, agar anak-anak kita dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan dapat menikmati masa kanak-kanak mereka dengan bahagia.

2. Kenakalan seorang anak bisa jadi disebabkan oleh pola pendidikan yang salah dari orang tua kepada sang anak.

3. Anak adalah anugerah dari Sang Pencipta yang sudah sepatutnya disyukuri, dijaga, dan dirawat dengan sepenuh hati.

4. Anak merupakan investasi kita dimasa tua nanti agar mereka dapat merawat kita ketika sudah tua nanti, saat kita sudah tidak mampu lagi bekerja. Anak juga sebagai penerus impian dan cita-cita kita yang belum tercapai dimasa hidup kita.

5. Anak adalah keindahan, kebanggaan, dan bukti cinta kasih anda dengan pasangan anda.

Catatan: Kisah diatas hanya sebagai contoh saja, tidak bermaksud menyinggung suatu suku, agama, ras, atau siapa saja. Cerita ini hanya sebatas unek-unek dalam hati saya tentang akibat dari membentak dan memarahi anak. Terima kasih.
Tag : Artikel
Back To Top