Dilema Cara Menagih Hutang

Cara Menagih Hutang -Ada banyak sekali cara menagih hutang, mulai dari cara yang baik-baik yaitu secara kekeluargaan, sampai dengan cara yang kasar secara intimidasi atau dengan menggunakan jasa penagih hutang yang biasa kita saksikan dikehidupan sehari-hari maupun di TV dalam sebuah adegan film atau sinetron-sinetron indonesia.
cara-menagih-hutang
Cara menagih hutang dengan menggunakan jasa penagih hutang kebanyakan hanya dilakukan oleh perusahaan atau pengusaha dan dengan jumlah hutang yang cukup banyak, puluhan juta bahkan ratusan juta rupiah. Atau juga sering dilakukan oleh perusahaan kartu kredit, bank, rentenir, dan dealer kendaraan bermotor yang terkadang meminta bantuan dep kolektor untuk menagih angsuran hutang.

Menurut saya menagih hutang secara kekeluargaan jauh lebih baik jika dibandingkan dengan cara menagih hutang diatas. Karena dengan dengan cara kekeluargaan ini resiko terputusnya tali silaturahmi akan jauh lebih kecil, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa keduanya antara si pemilik hutang dan si pemilik uang akan mengalami keretakan hubungan tali silaturahmi.

Nah, pada posting kali ini saya akan sedikit berbagi cerita tentang dilema menagih hutang yang pernah saya alami sendiri, dan mudah-mudahan tulisan saya ini bisa bermanfaat untuk anda yang kebetulan juga sedang mengalami problem penagihan hutang.

Bagaimana jika ada orang yang mau berhutang kepada kita?

Jika anda adalah orang yang berkecukupan, memiliki harta lebih, dan berhati mulia, mungkin akan dengan sangat gampang memberikan hutang kepada orang yang hendak meminjam uang. Terlebih jika orang tersebut adalah keluarga atau teman dekat anda. Dengan demikian anda bisa bermanfaat bagi sesama, menolong orang yang membutuhkan pertolongan.

Lalu bagaimana untuk orang biasa yang hidup serba pas-pasan seperti saya ini? bukan maksud saya tidak bersyukur atas pemberian Tuhan Yang Maha Esa, memang kenyataannya saya belum memiliki harta yang melimpah dan belum memiliki hati yang mulia. Jadi jika ada orang yang hendak meminjam uang, pasti saya akan berfikir terlebih dahulu.
  • Saya lihat siapa yang mau meminjam uang? Apakah saudara, apakah teman dekat, atau hanya teman yang sekedar kenal saja.
  • Berapa jumlah yang ia pinjam?
  • Untuk apa dia meminjam uang? Apakah untuk keperluan yang mendesak seperti berobat, melunasi cicilan, atau hanya sekedar untuk membeli hal yang tidak terlalu penting.
  • Kapan dia akan mengembalikan hutang? Apakah secepatnya ketika dia sudah memiliki uang, atau ada tempo waktu yang telah ia janjikan. Jadi ketika nanti sudah jatuh tempo, saya bisa dengan mudah mengingatkan.
Selain itu saya juga melihat kondisi keuangan saya saat ini, apakah saya masih punya uang simpanan yang cukup atau tidak, apakah dalam waktu dekat ini saya punya rencana  untuk menggunakan uang tersebut atau tidak.

Jika memang saya memiliki uang simpanan yang cukup, dan dia benar-benar sedang membutuhkan uang, serta benar-benar memiliki komitmen untuk mengembalikan hutang. Sebagai manusia yang masih memiliki hati nurani, saya akan memberikan hutang kepadanya, meskipun terkadang jumlahnya tidak bisa sesuai dengan yang dia inginkan.

Bagaimana jika hutang tidak kunjung dikembalikan?

Hal inilah yang terkadang membuat kita merasa jengkel, sudah berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun hutang belum juga dibayar, bahkan sudah jauh melewati perjanjian waktu yang sudah ditentukan. Ketika diingatkan ada yang mengelak dengan berbagai macam alasan. Alasan belum punya uanglah, belum inilah, belum itulah. Padahal jika diperhatikan hidup dia sudah lebih baik dari kita, sudah bisa beli ini, bisa beli itu, tapi punya hutang malah belum dibayar.

Ada juga kasus yang ketika kita tagih malah pura-pura lupa. Kadang saya berfikir, kok punya hutang bisa sampai lupa? Padahal ketika saya punya hutang, setiap hari selalu kepikiran. Tidur tidak bisa nyenyak, kemana-mana tidak enak, takut kalau mati belum sempat membayar hutang. Berpapasan dengan yang punya uang rasanya juga malu, risih, pokoknya tidak enak lah...

Tapi kok bisa mereka sampai lupa kalau punya hutang? Sungguh aneh.. benar-benar lupa atau hanya pura-pura lupa? Padahal sudah dijelaskan dalam agama islam melalui sabda Nabi Muhammad SAW tentang bahaya orang yang enggan membayar hutang.
dilema-cara-menagih-hutang

Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah)

Jiwa seorang mukmin masih bergantung dengan hutangnya hingga dia melunasinya.”
(HR. Tirmidzi )

Barangsiapa yang mati dalam keadaan masih memiliki hutang satu dinar atau satu dirham, maka hutang tersebut akan dilunasi dengan kebaikannya (di hari kiamat nanti) karena di sana (di akhirat) tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Ibnu Majah)

Membaca hadist Rasul tersebut membuat saya takut untuk berhutang, sebisa mungkin untuk menghidarkan diri dari hutang. Padahal jika anda memiliki hutang dan benar-benar berniat untuk membayar hutang, dan berdo'a kepada Allah agar dimudahkan untuk melunasi hutang, maka sesungguhnya Allah menjamin bahwa hutang anda pasti akan terbayarkan.
  • Ibaratkan anda memiliki hutang sebesar: Rp.3.000.000.
  • Penghasilan anda selama sebulan hanya: Rp. 2.500.000. 
  • Dipotong untuk bayar kontrakan Rp.500.000
  • Biaya hidup selama 1 bulan: Rp.1.500.000
  • Biaya lain-lain: Rp.500.000
  • Sisa pendapatan dalam sebulan Rp.500.000
Jika anda benar-benar berniat untuk mengembalikan hutang secepatnya, maka Insya alloh akan terbayarkan, karena rejeki dari Alloh bisa turun dari segala arah, bahkan dari hal yang tidak terduga. Atau anda juga dapat mensiasati dengan mencicil hutang Rp.500.000 setiap bulannya, maka dalam tempo 6 bulan saja, hutang anda sudah terbayarkan lunas.

Berbeda jika orang yang tidak berniat dengan sungguh-sungguh untuk membayar hutang, meskipun hutang hanya Rp.500.000, sedangkan penghasilan perbulan Rp.3.000.000. Jika dia tidak memiliki etikat baik untuk mengembalikan, maka hutang tersebut tidak akan terbayarkan. Karena sisa uang yang ia miliki justru digunakan untuk membeli barang-barang yang kurang dibutuhkan, misalnya seperti membeli gadget baru, membeli celana baru, makan di restoran, nonton film di bioskop, karaoke, dan lain sebagainya. Sedangkan ia justru tidak memikirkan hutang yang sesungguhnya harus lebih didahulukan.

Bagaimana cara menghadapi orang yang enggan mengembalikan hutang?

Inilah yang paling sulit, pasti teman-teman juga pernah merasakannya. Ketika kita meminta uang kita sendiri, hak kita sendiri, tapi rasanya malah seperti mengemis. Kita memberikan uang kita sendiri, hasil jerih payah kita sendiri kepada mereka dengan sangat mudah, namun ketika hendak meminta hak kita sendiri disaat kita sedang kesulitan uang malah susahnya minta ampun.

Lalu bagaimana cara mengatasinya?
  1. Berdo'alah kepada Tuhan agar dibukakan pintu hatinya, dan diberi kesadaran auntuk segera mengembalikan uang anda.
  2. Tanyakan secara baik-baik kepadanya tentang nasib hutang tersebut.
  3. Beri dia nasehat, pencerahan, dan wawasan tentang hukum mengembalikan hutang.
  4. Katakan padanya bahwa saat ini anda sedang sangat membutuhkan uang tersebut.
  5. Kasih tenggang waktu agar dia bisa melunasi hutangnya.
  6. Usahakan agar jalinan silaturahmi tetap terjaga antara anda dengan si penghutang.
 Itulah artikel tentang cara menagih hutang yang dapat saya tuliskan hari ini, semoga bermanfaat bagi anda yang sedang memiliki problem penagihan hutang. Dan semoga juga dapat memberikan pencerahan bagi anda yang masih menyepelekan hutang dan enggan untuk mengembalikan hutang. Saya do'akan semoga anda yang sedang memiliki hutang segera terbayarkan, dan bagi anda yang sedang mengalami kesulitan penagihan hutang semoga segera dibayarkan juga.
Back To Top