Suka Duka Hidup Merantau

Hidup merantau merupakan sebuah pilihan bagi sebagian orang yang biasanya dilakukan karena tuntutan ekonomi atau hal yang lainnya. Setiap perantau pasti memiliki suka duka hidup merantau masing-masing, karena suka duka menjadi seorang perantau merupakan sebuah pengalaman berharga yang kelak bisa menjadi sejarah ataupun cerita bagi anak cucu kita.
suka-duka-merantau
Setelah pada posting sebelumnya saya menulis tentang suka duka hidup dikampung halaman, pada posting kali ini gantian saya akan menulis tentang suka duka hidup merantau yang telah saya alami sampai sekarang sebagai seorang perantau yang jauh dari kampung halaman tercinta.

Saya memutuskan untuk merantau dari desa ke kota, dari Wonogiri ke Jakarta yang pertama adalah karena tuntutan ekonomi. Karena dikampung saya sampai saat ini masih sangat sedikit sekali lapangan pekerjaan, maka tidak heran jika kebanyakan penduduk dikampung saya baik itu yang sudah berkeluarga maupun yang baru lulus sekolah memilih untuk merantau ke kota-kota besar seperti jakarta, bekasi, surabaya, medan, semarang, bahkan sulawesi dan kalimantan.

Budaya merantau yang ada dikampung saya sudah terjadi sejak dulu, bahkan jauh sebelum saya dilahirkan. Bahkan kedua orang tua saya juga seorang perantau yang Alhamdulillah sudah memiliki rumah atau tempat tinggal sendiri di Jakarta dan dikampung halaman saya. Jadi ketika ke Jakarta mereka pulang kerumah sendiri, begitu juga ketika pulang kampung mengunjungi rumah sendiri yang ada dikampung.

Selain karena faktor ekonomi dan lapangan kerja, latar belakang saya menjadi seorang perantau adalah karena permintaan kedua orang tua sekaligus mengikuti jejak kedua orang tua yang sudah lebih dulu merantau. Sehingga meskipun hidup di tanah rantau saya tetap tingga bersama kedua orang tua. Jadi saya masih sangat beruntung sekali jika dibandingkan dengan teman-teman perantau lainnya yang hanya tinggal sebatang kara tanpa sanak dan saudara ditanah rantau.

Sukanya menjadi seorang perantau adalah kita memiliki pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik jika dibandingkan dengan teman-teman saya yang memilih untuk tetap tinggal didesa, karena jelas upah minimum pekerja dikota jakarta bisa dua kali atau tiga kali lipat jika dibandingkan dengan upah minimum pekerja dikampung saya, itu jika kita bekerja sebagai karyawan atau buruh perusahaan.

Jika kita menjadi seorang wirausaha (berdagang), pangsa pasar dan keuntungan yang diperoleh dari berdagang dikota besar jauh lebih besar jika dibandingkan dengan berdagang didesa. Karena jelas jumlah penduduk dan harga-harga khususnya makanan dikota besar jauh lebih mahal. Saya ambil contoh jika kita berjualan makanan berjenis gorengan seperti tempe goreng, tahu goreng, dan yang lainnya, dijakarta harganya sekitar seribu sampai seribu lima ratus pergorengan. Sedangkan didesa saya dengan uang seribu rupiah sudah mendapatkan gorengan dua atau tiga biji, padahal harga bahan pokoknya sama baik didesa maupun dikota.

Sengaja saya memberikan contoh wirausaha berdagang makanan karena memang kebanyakan penduduk dikampung saya yang merantau kalau tidak menjadi buruh pabrik, mereka berdagang makanan seperti bakso, mie ayam, soto, gorengan, dan jamu. Baru akhir-akhir ini saja muncul jenis usaha baru yang cukup menjanjikan yang banyak digeluti oleh penduduk desa saya ditanah rantau yaitu dibidang cuci sofa dan cuci springbed.
suka-duka-hidup-merantau
Selain hal yang sudah saya tuliskan diatas, sukanya menjadi seorang perantau adalah kita bisa memiliki pengalaman lebih banyak. Kita bisa melihat dan merasakan banyak hal yang tidak dirasakan oleh mereka yang hanya tinggal didesa. Kita juga bisa memiliki lebih banyak teman dan bahkan kekasih atau istri dari perkenalan ditanah rantau. Tidak sampai disitu saja, karena sebenarnya masih banyak lagi suka dan kebahagiaan saya dari hidup merantau yang tidak dapat saya tuliskan satu persatu.

Sedangkan duka hidup merantau adalah jauh dari kampung halaman, jauh dari keluarga, jauh dari sanak saudara dan teman-teman sepermainan, terkecuali saya karena meskipun merantau saya tetap dekat dengan keluarga, sanak saudara, dan teman-teman ketika didesa. Karena banyak sekali saudara dan teman sekampung yang juga merantau ke jakarta.

Hidup merantau dikota besar seperti jakarta pasti sudah akrab dengan udara panas, banir, kemacetan, desak-desakan, saling sikut dan saling senggol. Karena memang menurut saya hidup di ibukota sangatlah keras, semuanya dihargai dengan uang, saling mementingkan diri sendiri, bahkan bisa dibilang masyarakat ibukota telah kehilangan rasa toleransi dan rasa saling menghormati.

Sangat berbeda sekali dengan lingkungan dikampung saya yang udaranya masih sejuk, masih asri, tidak ada banjir, tidak ada kemacetan, dan yang paling penting rasa toleransi, saling menghormati, saling menghargai, saling tolong menolong dan gotong royong yang tinggi diantara sesama penduduk kampung.

Sebenarnya masih cukup banyak duka yang kita rasakan ketika hidup merantau yang tidak dapat saya tuliskan semua, dan pastinya setiap perantau pasti memiliki pengalaman duka yang berbeda-beda pula. Semua suka dan duka hidup merantau tersebut semoga bisa menjadi pelajaran dan pengalaman berharga bagi kita untuk menjalani kehidupan kini dan nanti.
SEKIAN...
Tag : Artikel
Back To Top