Belajar Menjadi Petani Padi edisi Tunggu Manuk

Selamat malam temans, melanjutkan artikel saya sebelumnya yang menceritakan tentang pengalaman saya belajar bertani padi edisi memanen padi, kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya belajar bertani padi edisi tunggu manuk atau dalam bahasa indonesianya menunggu burung, yaitu mengusir burung pipit yang memakan padi disawah yang mulai menguning.

belajar menjadi petani padi edisi tunggu manuk
Jujur seumur hidup baru kali ini saya merasakan yang namanya tunggu manuk, bagi saya ini merupakan sebuah pengalaman yang cukup asyik. Sambil menunggu beduk adzan maghrib tiba karena sekarang adalah bulan puasa, saya mengisi waktu liburan dikampung halaman istri saya dengan kegiatan tunggu manuk disawah.

Unuk mengusir burung pipit yang datang bergerombol memakan padi yang sudah mulai menguning, para petani disini memanfaatkan ketapel yang diisi dengan peluru yang terbuat dari butiran tanah lumpur yang dibentuk bulat kemudian dijemur hingga mengeras, jadi meskipun terbuat dari tanah lumpur, kalau sampai kena kepala orang lumayan sakit juga, bahkan bisa berdarah.

Ada juga petani yang memanfaatkan orang-orangan sawah yang digerakkan dengan menggunakan tali untuk mengusir burung pipit pemakan gabah alias padi. Ada juga yang menggunakan bambu yang dibuat sedemikian rupa agar dapat mengeluarkan suara keras menyerupai tepukan tangan, sehingga burung pipit yang datang bergerombol ketika mendengar suara tersebut akan terbang berhamburan.

Sambil menikmati pemandangan sore hari dipematang sawah, sayapun ikut mengusir burung pipit tersebut dengan menggunakan ketapel, ini adalah cara yang biasa digunakan oleh mertua saya sejak dulu untuk mengusir burung pipit tersebut, tapi menurut saya cara ini sebenarnya kurang efisien, karena selain cukup melelahkan karena harus sering menarik ketabel yang cukup berat, burung pipit tidak akan kabur jika peluru ketapel tersebut tidak benar-benar mengenai tepat didekat para burung emprit tersebut hinggap.

Sejenak saya berfikir bagaimana cara mengusir burung emprit tersebut agar lebih efisien dan menghemat tenaga. Mungkin bisa menggunakan senapan angin tanpa peluru, karena yang dibutuhkan hanya suara ledakan senapan angin yang cukup keras tersebut untuk membuyarkan kerumunan burung emprit tersebut. Atau mungkin menggunakan "drone" atau pesawat tanpa awak seperti yang sering digunakan oleh polisi untuk mengintai, atau digunakan oleh para media kameramen dan fotografer untuk mengambil gambar melalui udara.

Saya membayangkan jika suatu saat petani modern memanfaatkan drone tersebut untuk mengecek keadaan sawah, sekaligus untuk mengusir hama padi seperti burung pipit dan yang lainnya. Pasti tunggu manuk dengan menggunakan drone akan semakin menyenangkan, mudah-mudahan suatu saat saya bisa membelikan mertua saya drone untuk membantu tunggu manuk. hehehe.. SEKIAN
Tag : Artikel
Back To Top