Belajar Menjadi Petani Padi Edisi Memanen Padi

Apa kabar teman's? Pada posting kali ini saya akan sedikit bercerita tentang pengalaman saya belajar menjadi petani padi, karena meskipun saya dilahirkan didesa, tapi selama ini saya belum pernah merasakan yang namanya pergi kesawah untuk bertani padi seperti menanam padi, mengairi sawah, atau memanen padi. Semua itu dikarenakan memang keluarga saya tidak memiliki sawah dan kondisi tanah dikampung saya adalah pegunungan, jadi lebih cocok untuk pertanian lahan kering seperti kacang, jagung, kedelai, singkong, dan lain sebagainya. 

belajar menjadi petani padi edisi memanen padi

Nah pengalaman belajar menjadi petani padi ini saya dapatkan setelah saya menikah dengan seorang gadis anak seorang petani, mirip seperti lirik lagu koesplus kan? Hehehe.. Kebetulan orang tua dari istri saya alias mertua saya memiliki sebidang tanah persawahan yang dijadikan sebagai mata pencaharian dan pekerjaan sehari-hari, jadi mau tidak mau, sebagai seorang menantu yang baik hati saya harus ikut membantu kesawah.

Mempunyai istri seorang anak petani itu bisa dibilang enak gak enak, enaknya saya bisa mendapatkan pengalaman baru menjadi seorang petani, bisa belajar bagaimana cara mengolah sawah yang baik, bisa tahu bagaimana proses menanam padi yang menjadi cikal bakal nasi yang selama ini saya makan, bisa menikmati udara persawahan dipagi dan sore hari. Sedangkan tidak enaknya adalah kalau pas siang ditengah sawah panas sekali, karena sama sekali tidak ada tempat untuk berteduh. Selain itu dari kecil saya memiliki penyakit alergi gatal-gatal, jadi kalau kena debu atau terkena ulat bulu sedikit saja pasti langsung gatal-gatal. Parahnya lagi ketika kulit saya bersentuhan dengan pohon padi atau terkena debu padi (bleduk padi) ternyata kulit saya pun menjadi gatal-gatal. Sehingga keluarga saya bilang kalau saya tidak cocok menjadi petani dan tidak cocok pergi kesawah, saya kan jadi malu..

Nah pengalaman pertama saya belajar menjadi petani padi yang menyebabkan gata-gatal dan kulit saya terkena virus herphes adalah ketika saya ikut memanen padi, atau istilah jawanya adalah ngarit pari. Ceritanya pas ketika itu saya dan istri pulang kampung kerumah istri saya, ternyata pada saat itu juga sedang musim panen padi, mau tidak mau saya harus ikut bantu-bantu mereka donk, meskipun ibu mertua saya sebenarnya sudah melarang saya untuk ikut kesawah, tapi saya tetap nekat ikut kesawah untuk memanen padi, malu donk... masa semua keluarga capek-capek ngarit pari, saya enak-enakan dirumah.

Singkat cerita saya pun diajari kakak ipar saya bagaimana caranya ngerit pari/ memanen padi yang benar, karena mereka sudah tahu bahwa saya selama ini belum pernah bertani. Awalnya agak susah, tapi lama-kelamaan lancar juga, bahkan kakak ipar saya bilang kalau cara ngerit pari saya sudah cepat, dan hampir sama cepatnya dengan orang yang sudah terbiasa ngerit pari. Iya donk.. saya gitu lhoo.. dalam hati saya sedikit bangga.

Baru setengah hari disawah ternyata saya sudah ngap-ngapan, soalnya ditengah sawah ternyata panasnya minta ampun. Seluruh tubuh kita terpapar langsung dengan sinar matahari tanpa anda tempat untuk berteduh sedikitpun, sudah pasti membuat keringat bercucuran, dan kita harus banyak-banyak minum air putih agar tidak terkena dehidrasi.

Akhirnya saya tidak kuat menyelesaikan panen padi sampai sore hari, baru setengah hari alias sebelum jam makan siang saya sudah pulang duluan, hehehe.. Sesampainya dirumah saya tidak langsung mandi, melainkan leyeh-leyeh melepas lelah terlebih dahulu sambil mengeringkan keringat, karena kalau berkeringat langsung mandi katanya bisa masuk angin. Tanpa sadar ternyata saya malah ketiduran sampai jam 2 siang dengan pakaian kotor penuh dengan lumpur sawah, saya pun segera bergegas mandi untuk membersihkan tubuh dari debu padi dan lumpur sawah tersebut.

Sehabis mandi tubuh saya terasa gatal-gatal, pasti alergi gatal saya kumat lagi nih. Karena saking gatalnya saya garuk-garuk terus, kemudian saya beri bedak dan balsem caplang, tapi ternyata rasa gatal tersebut tidak hilang juga, justru kulit saya menjadi bentol besar-besar. Keesokan harinya kulit yang gatal tersebut menjadi berair dan mirip seperti luka bakar. Setelah saya konsultasi ke dokter ternyata saya terkena penyakit herphes, dan baru sembuh sekitar kurang lebih satu bulan meskipun sudah minum obat dan saya beri salep dari dokter.

Saya baru tahu ternyata menjadi petani padi itu tidak mudah, mereka para petani sungguh luar biasa sekali, bekerja membanting tulang, memeras keringat dibawah terik sinar matahari. Sangat besar sekali jasa para petani terhadap perekonomian negara kita, terutama terhadap kebutuhan pangan dan pasokan beras yang kita makan selama ini.

Itulah sedikit cerita belajar menjadi petani padi yang menurut saya cukup menggelikan, memalukan, dan menyakitkan. Baru setengah hari kesawah aja sudah berobat ke dokter, bagaimana bisa saya menjadi seorang petani padi. hehehee.. SEKIAN.

Tag : Artikel
Back To Top